Komunikasi dan Public Relations (Catatan Bahan Presentasi)Pada dasarnya pekerjaan PR dapat dikategorikan sebagai bagian dari kegiatan komunikasi. Definisi Komunikasi Proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap:· Proses komunikasi secara primer (langsung) adalah proses penyampaian pesan yang dilakukan dengan tatap muka. · Proses komunikasi secara sekunder (tak langsung) adalah proses penyampaian pesan yang dilakukan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua. Seperti surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan lain-lain. Kunci sukses berkomunikasi Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang pernah diperoleh komunikan. Tentang Public Relations PR, singkatan dari public relations mempunyai tambahan “s” dalam kata “relations” yang mengindikasikan pengertian jamak. Artinya setiap hubungan dan komunikasi yang terjadi haruslah bersifat timbal balik. Ia tidak hanya searah saja. http://rumakom.wordpress.com/2007/10/02/serba-serbi-public-relations/#more-10, google, 041107, 2;12
kategori PR
•November 5, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarHumas kependekan dari hubungan masyarakat. Hal ini seringkali disederhanakan sebagai sebuah terjemahan dari istilah Public Relations (PR). Sebagai ilmu pengetahuan, PR masih relatif baru bagi masyarakat Indonesia. PR sendiri merupakan gabungan berbagai imu dan termasuk dalam jajaran ilmu-ilmu sosial seperti halnya ilmu politik, ekonomi, sejarah, psikologi, sosiologi, komunikasi dan lain-lain.Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini PR mengalami perkembangan yang sangat cepat. Namun perkembangan PR dalam setiap negara itu tak sama baik bentuk maupun kualitasnya.Proses perkembangan PR lebih banyak ditentukan oleh situasi masyarakat yang kompleks.PR merupakan pendekatan yang sangat strategis dengan menggunakan konsep-konsep komunikasi (Kasali, 2005:1). Di masa mendatang PR diperkiraan akan mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Pemerintah AS mempekerjakan 9000 karyawan di bidang komunikasi yang ditempatkan di United States Information Agency. Perkembangan Humas di Dunia Dalam sejarahnya istilah Public Relations sebagai sebuah teknik menguat dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh pelopor Ivy Ledbetter Lee yang tahun 1906 berhasil menanggulangi kelumpuhan industri batu bara di Amerika Serikat dengan sukes. Atas upayanya ini ia diangkat menjadi The Father of Public Relations.Perkembangan PR sebenarnya bisa dikaitkan dengan keberadaan manusia. Unsur-unsur memberi informasi kepada masyarakat, membujuk masyarakat, dan mengintegrasikan masyarakat, adalah landasan bagi masyarakathttp://rumakom.wordpress.com/2007/10/05/sejarah-dan-perkembangan-public-relations/#more-11, google, 041107, 1;56
kategori MM
•November 5, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar| WRITING SKILL WORKSHOP IN BUSINESS & MANAGEMENT |
| Submitted by: Office of Admissions Sat, 17 Feb 07 |
| Media massa merupakan pilar keempat dalam menunjang pembangunan bangsa, media massa juga mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk membangun opini publik dan mempengaruhi persepsi masyarakat tentang suatu hal, apa yang sedang menjadi pemberitaan hangat di media, akan menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Apa yang digambarkan buruk oleh media massa, berpotensi besar untuk digambarkan buruk juga oleh masyarakat.Media massa juga berfungsi sebagai “jembatan” antara pemerintah dengan masyarakat, antara orang miskin dengan orang kaya, antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, bahkan pihak yang tidak bisa “tersentuh” oleh pihak lain bisa diajak berdiskusi oleh media massa.Salah satu media yang memiliki keistimewaan tersendiri adalah Majalah dan Surat Kabar. Memang dalam hal Up Date berita, Majalah dan Surat Kabar kalah jika dibandingkan dengan media lain seperti Televisi dan Radio, namun dari segi “kedalaman” dan “keluasan” berita, jelas dua media yang telah disebutkan tadi tidak dapat mengalahkan media majalah dan surat kabar. hal itu terbukti, meskipun sudah banyak televisi dan radio baru bermunculan sebagai sumber informasi masyarakat, surat kabar tetap diminati oleh masyarakat, bahkan peminatnya dari hari ke hari semakin bertambah.Namun untuk bisa terus eksis dan berkontribusi dalam kehidupan, surat kabar memerlukan juga khalayak pembaca. Media massa juga memerlukan konsumen (pengiklan) sebagai nafas dan darah mereka untuk tetap hidup. Untuk dapat memenuhi tuntutan dari para pembaca dan pengiklan maka surat kabar membutuhkan wartawan dan reporter yang dapat menganalisis berbagai peristiwa dan fenomena secara tajam dan mengubahnya kedala bentuk tulisan/berita. |
http://www.mmugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=168&Itemid=243, google, 11;30.041107
kategori PR
•November 5, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar| WRITING SKILL WORKSHOP IN BUSINESS & MANAGEMENT |
| Submitted by: Office of Admissions Sat, 17 Feb 07 |
| Media massa merupakan pilar keempat dalam menunjang pembangunan bangsa, media massa juga mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk membangun opini publik dan mempengaruhi persepsi masyarakat tentang suatu hal, apa yang sedang menjadi pemberitaan hangat di media, akan menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Apa yang digambarkan buruk oleh media massa, berpotensi besar untuk digambarkan buruk juga oleh masyarakat.Media massa juga berfungsi sebagai “jembatan” antara pemerintah dengan masyarakat, antara orang miskin dengan orang kaya, antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, bahkan pihak yang tidak bisa “tersentuh” oleh pihak lain bisa diajak berdiskusi oleh media massa.Salah satu media yang memiliki keistimewaan tersendiri adalah Majalah dan Surat Kabar. Memang dalam hal Up Date berita, Majalah dan Surat Kabar kalah jika dibandingkan dengan media lain seperti Televisi dan Radio, namun dari segi “kedalaman” dan “keluasan” berita, jelas dua media yang telah disebutkan tadi tidak dapat mengalahkan media majalah dan surat kabar. hal itu terbukti, meskipun sudah banyak televisi dan radio baru bermunculan sebagai sumber informasi masyarakat, surat kabar tetap diminati oleh masyarakat, bahkan peminatnya dari hari ke hari semakin bertambah.Namun untuk bisa terus eksis dan berkontribusi dalam kehidupan, surat kabar memerlukan juga khalayak pembaca. Media massa juga memerlukan konsumen (pengiklan) sebagai nafas dan darah mereka untuk tetap hidup. Untuk dapat memenuhi tuntutan dari para pembaca dan pengiklan maka surat kabar membutuhkan wartawan dan reporter yang dapat menganalisis berbagai peristiwa dan fenomena secara tajam dan mengubahnya kedala bentuk tulisan/berita. |
http://www.mmugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=168&Itemid=243, google,041107,1:37
kategori MM
•November 5, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarSamarinda, Kompas – Belanja masyarakat Indonesia untuk media cetak saat ini masih sangat rendah. Data yang dimiliki Serikat Penerbit Surat Kabar menunjukkan, masyarakat Indonesia lebih banyak membelanjakan uang untuk membeli rokok dibandingkan membeli media cetak. Hal itu juga menunjukkan, pemasaran yang dilakukan perusahaan rokok jauh lebih berhasil dibandingkan dengan perusahaan media massa.
“Empat tahun lalu kami menemukan fakta, spending untuk surat kabar Rp 4,9 triliun per tahun. Spending untuk rokok Rp 150 triliun per tahun,” kata anggota Serikat Penerbit Surat Kabar Leo Batubara dalam Konvensi Nasional Media Massa di Samarinda, Kamis (8/2).
Konvensi digelar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang akan digelar hari Jumat ini. Menurut rencana, peringatan HPN ini akan dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Leo menambahkan, kemampuan memasarkan media cetak tidak terlepas dari kondisi manajemen media massa. Dua tahun lalu, misalnya, hanya 30 persen media massa yang dinilai sehat secara bisnis.
Dalam kesempatan itu, Direktur Utama TransTV dan Trans7 Ishadi SK menyampaikan 10 kiat yang dapat digunakan untuk mengatasi kelemahan manajemen media cetak dan media elektronik. Kiat-kiat tersebut antara lain perlu melakukan studi pasar yang komprehensif dan mendalam agar perencanaan bisnis akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jika harus mencari investor, katanya, haruslah dicari yang memiliki visi dan misi sesuai dengan medianya. Media massa juga harus berani mengambil peluang usaha dengan memanfaatkan teknologi informasi serta konsisten meningkatkan kualitas.
Pengajar Ilmu Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada Amir E Siregar menyatakan, media massa bisa dibedakan menjadi media yang berorientasi bisnis dan yang punya misi perjuangan/idealisme. Meski demikian, keduanya tidak bisa dipertentangkan karena media di Indonesia adalah perjuangan dengan konsekuensi bisnis. (BRO/YNS)
http://mediacare.blogspot.com/2007/02/manajemen-media-massa-perlu.html, google, 041107, 11;32
kategori broadcast
•November 5, 2007 • Tinggalkan sebuah KomentarAssalamu ‘alaikum warahmatullahi waarakatuhSelamat bertemu kembali diEramuslim.com, semoga i’tikaf kita pada Ramadhan kemarin diterima Allah SWT.Membangun media televisi Islam?Pasti, wajib, mesti, kudu dan harus. Hukumnya fardhu kifayah bagi umat Islam. Kalau sampai umat Islam di negeri ini tidak punya media sendiri yang besar, kuat, mandiri, netral, berwibawa, sehat secara fikrah dan finansial, maka 200 juta umat ini berdosa.Sama kasusnya dengan bila ada mayat muslim yang tidak dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan, maka semua umat Islam menjadi berdosa karenanya.Apalagi mengingat umat Islam habis dijadikan bulan-bulanan oleh semua media yang ada. Nyaris semua kompak menyudutkan umat Islam serta dengan paksa mendudukkan kita di kursi terdakwa. Jaringan koran, majalah, radio, televisi dan kantor berita seakan kompak dalam meruntuhkan bangunan Islam di negeri ini.Ke depan, sudah bukan musimnya lagi kita sebagai muslim meributkan urusan internal kelompok, partai, fraksi, kepentingan ormas, jamaah kecil-kecil dan seterusnya. Kita harus secara bersama mengusung berdirinya koran Islam, yang sampai hari ini baru punya satu saja. Padahal mestinya kita bukan hanya punya satu, tapi sepuluh kalau perlu seratus koran Islam yang kompak, bersinergi dan bisa bermain cantik.Cukup menggelikan memang, umat Islam ini hobinya bikin ormas sampai bikin partai baru. Sampai-sampai para pendukungnya sikut-sikutan rebutan konstituen sampai rebutan kursi. Tapi kok ngga ada ya yang rebutan bikin televisi untuk umat Islam? Padahal masih sedikityang menggarapnya, berarti lahannya masih terbuka luas. Sementara dari segi bisnis, sebenarnya tetap menjanjikan.Secara umumnya media massa, kita butuh bukan hanya Sabili, Ummi, Ermuslim Digest saja, tapi kita butuh ratusan lagi majalah Islam yang berbobot, berkualitas, menarik isinya, bermanfaat untuk umat Islam. Dan yang paling penting, sehat keuangannya.Dan ke depan, kita wajib punya jaringan televisi. Bukan sekedar satu atau dua stasiun televisi, tapi jaringan televisi yang tersebar di seluruh wilayah negeri ini, menjangkau semua wilayah NKRI, bukan hanya di kota saja tetapi masuk sampai ke pinggir peradaban.Yang harus disiapkan sekarang ini bukan hanya modal besar, tetapi lebih dari itu kita perlu jutaan SDM, baik yang bersifat teknik maupun kebijakan. Kita juga butuh teknologi yang sudah semakin berkembang, di mana kita telah tertinggal puluhan tahun dari negeri lain.Anda mungkin satu dari sekian juta umat Islam yang gregetan karena sampai hari ini nyaris belum ada satu pun televisi milik umat Islam. Kegeraman anda itu kami rasakanjuga di berbagai tempat, juga dari pemuda seperti anda.Namun perlu diingat bahwa membangun stasiun televisi memang bukan hal yang murah, langkahnya pun tidak mudah, meski masa depannya tetap cerah.Maka sebelum impian kita bersama tercapai, kita perlu juga membuat step demi step road map-nya. Mungkin tidak ada salahnya, untuk kalangan kita yang belum berduit, memulai dengan kemampuan dan kreatifitas seadanya dulu.Sebelum bicara tentang TV broadcast yang pro, tidak ada salahnya kita juga memulai dari yang amatir, setidaknya potensi umat di wilayah amatir ini perlu dipertimbangkan. Sebab begitu banyak orang berhasil meski bermula dari amatiran dulu.Membangun TV komunitas seperti TV kampus, TV Sekolah, TV Pesantren, TV di kapal laut, kereta api, hotel, rumah sakit dan tempat-tempat publik lainnya, kami kira perlu dipikirkan sebagai sarana latihan dan uji kemampuan. Selama ini rasanya belum ada yang menggarapnya secara serius dari umat Islam.Belum lagi kalau kita bicara teknologi 3-G yang semakin marak. Seharusnya umat Islam punya situs internet berteknologi video streeming, semacam You Tube. Selain lebih murah, model ini bisa mengajak para pembacanya untuk ikut sharing meng-upload karya mereka. Sehingga bisa menjadi model TV masa depan yang menjadi terobosan.Namun memilki stasiun teleisi konvensinal tetap perlu, karena biar bagaimana pun objek dakwah kita memang ada di sana. Barangkali tidak mengada-ada bila kita katakan bahwa lebih banyak jumlah pesawat televisi di negeri ini dari pada komputer. Maka pendirian stasiun televisi sendiri tetap wajib hukumnya bagi ummat Islam, apalagi mengingat jumlah umat Islam paling banyak di negeri ini.Semoga cita-cita itu bisa segera menjadi kenyataan, dan semoga Allah SWT mendengar doa kita. Amien.Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi waarakatuhAhmad Sarwat, Lc
kategori broadcast
•November 5, 2007 • Komentar Dimatikan| Siaran Radio Untuk Siapa? |
| By Andy Rustam |
| Monday, 27 March 2006 |
| Sebagai seorang ibu rumah tangga, isteri saya suka membeli majalah Femina atau majalah Kartini. Saya sebagai suami tentunya tidak pernah sekalipun membeli majalah tersebut, tapi bukan berarti saya tidak membacanya. Saya membacanya juga tetapi yang berlangganan majalah tersebut adalah isteri saya. Artinya yang tercatat sebagai pelanggan adalah isteri saya. Laku atau tidak lakunya majalah tersebut sangat tergantung pada pembelinya yaitu para wanita/ibu rumah tangga. Tetapi lucunya, ketika beberapa tahun yang lalu di Jakarta lahir “Radio Bisnis” yang maksudnya ingin meraih pendengar dari kalangan para pebisnis, fakta berbicara (AC Nielsen Survey 2003) bahwa radio yang paling banyak pendengarnya dengan profesi sebagai pebisnis justru “Radio Sonora”, sebuah radio yang sama sekali tidak pernah mem-”positioning”-kan diri sebagai radio bisnis, bahkan slogan dan sapa-an-nyapun tidak pernah menggunakan kata bisnis, eksekutif atau sejenisnya. |
http://broadcastsukses.com/index.php?option=com_content&task=view&id=34&Itemid=26
Halo dunia!
•Oktober 27, 2007 • 1 KomentarWelcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
